Tampilkan postingan dengan label Sejarah Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Bali. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2014

Kisah Ratu Gede Dalem Dukut



Sifat Kesatria Dalem Dukut Patut Diteladani
Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan upaya Dalem Klungkung menyatukan Nusa Penida dengan Bali. Upaya itu dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih produktif antara rakyat Bali dan rakyat Nusa. Hanya saat Ngurah Peminggir diutus oleh Dalem Klungkung mendekati Dalem Nusa ternyata gagal. Kegagalan itu karena Ngurah Peminggir menggunakan kekerasan perang mau menguasai Nusa. Bagaimana hubungan kesejarahan antara Pura Dalem Peed dengan Dalem Dukut?
==============================
SAAT itu Dalem Dukut melepaskan wong samar-nya mengalahkan Ngurah Peminggir dengan pasukannya. Dalem Klungkung melanjutkan upaya penyatuan Pulau Bali dengan Nusa dengan mengutus I Gst. Ngurah Jelantik Bogol. Pendekatan yang digunakan oleh I Gusti Ngurah Jelantik Bogol adalah pendekatan yang etis mengikuti tata krama seorang kesatria sebagai utusan raja. Dalem Dukut pun menerima dengan sangat hormat sesuai dengan tata krama kerajaan dalam menerima utusan raja.
Dalem Dukut atau ada juga sumber yang menyebut Dalem Bungkut bersedia menyerahkan Kerajaan Nusa melalui suatu cara yang terhormat dalam tata krama sebagai kesatria. Dua tokoh ini pun mengadakan perang tanding secara terhormat dengan tidak melibatkan prajurit dan rakyatnya. Mereka melakukan perang tanding secara kesatria tidak berdasarkan kebencian dan kesombongan akan kelebihan diri masing-masing.
I Gst. Jelantik Bogol dalam perang tanding itu menggunakan senjata pemberian kerajaan bernama ”Ganja Malela”. Dalam perang tanding itu senjata Ganja Malela I Gusti Jelantik Bogol patah. Hampir saja I Gst. Jelantik Bogol kalah. Cepat-cepat istrinya, Ni Gusti Ayu Kaler, memberikan senjata bartuah bernama Pencok Sahang. Melihat senjata Pencok Sahang ini Dalem Dukut sudah punya firasat bahwa waktunya sudah tiba untuk kembali ke alam sunia lewat senjata Pencok Sahang.
Peperangan pun dihentikan sementara dan Dalem Dukut menyatakan kepada I Gst. Jelantik Bogol bahwa ia akan kembali ke Sunia Loka lewat senjata Pencok Sahang itu. Dalem Dukut pun menyatakan menyerahkan segala kekayaan Nusa dengan rakyat dan wong samar-nya untuk mendukung Dalem Klungkung memajukan Klungkung.
Senjata Pencok Sahang ini sesungguhnya adalah taring Naga Basuki. Ketika Ni Gst. Ayu Kaler mandi di Sungai Unda ada sepotong kayu bagaikan kayu bakar atau sahang yang selalu menujunya. Setiap kayu itu dijauhkan dari dirinya selalu balik kembali mendekati dirinya. Akhirnya kayu itu dipungut. Setelah dibelah ternyata di dalamnya terdapat sebuah keris yang belum jadi. Keris itulah bernama Pencok Sahang yang tiada lain adalah taring Naga Basuki sendiri.
Yang patut direnungkan latar belakang dari perang tanding Dalem Dukut dengan Jelantik Bogol. Dua orang ini sesungguhnya sudah saling kenal, bahkan bersahabat saat belum menjabat sebagai raja maupun patih. Saat ada panggilan tugas yang berbeda ini mereka kelola dengan bijak sesuai dengan swadharma kesatria. Saat Patih Jelantik Bogol datang ke Nusa membawa tugas Kerajaan Klungkung, Dalem Dukut menyambutnya dengan sangat ramah.
Dalem Dukut menyatakan bahwa jangan karena ada tugas yang berlawanan terus persahabatan menjadi hilang. Demikian juga sebaliknya jangan karena sahabat terus swadharma ditinggalkan sebagai seorang kesatia. Patih Jelantik Bogol membawa pasukan dari Klungkung, tetapi tidak dengan kasar menyerang Kerajaan Nusa. Jelantik Bogol mengatakan pendekatan diplomatik terlebih dahulu dengan cara-cara yang menghormati Dalem Dukut. Raja Nusa ini pun menyambut dengan baik. Dalem Dukut menjamu Patih Jelantik Bogol sebagai seorang teman.
Dalam jamuan tersebut Dalem Dukut menyatakan bahwa Nusa tidak akan kalah kalau Dalem Dukut masih hidup, walaupun semua pasukan Nusa habis. Sebaliknya utusan Dalem Klungkung pun tidak akan kalah kalau Patih Jelantik Bogol tidak gugur di medan perang, meskipun semua pasukan Klungkung gugur dalam pertempuran.
Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol sepakat untuk tidak memberikan pasukannya masing-masing bertempur. Biarlah mereka bergembira membangun komunikasi persaudaraan demi Bali dan Nusa. Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol sepakat untuk melakukan perang tanding dalam melakukan swadharma kesatria. Swadharma Patih Jelantik Bogol adalah menyukseskan misi Dalem Klungkung untuk menyatukan Nusa Penida ke dalam kekuasaan Klungkung, sedangkan Dalem Dukut memiliki swadharma untuk menjaga eksistensi kehormatan Kerajaan Nusa Penida.
Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol perang tanding untuk melakukan swadharmanya masing-masing. Perang tanding itu bukan dilakukan karena kebencian, tetapi atas dorongan melakukan swadharma sebagai kesatria. Dalam melakukan swadharma tersebut mereka tetap juga menjaga persahabatan. Sebelum perang tanding dilangsungkan, Dalem Dukut pun menjamu I Gst. Ngurah Jelantik Bogol sebagai seorang sahabat dengan jamuan kehormatan. Pasukan Klungkung dan Nusa pun ikut berpesta dalam perjamuan tersebut.
Setelah jamuan berlangsung barulah perang tanding dilakukan dengan cara-cara kesatria. Kedua pasukan hanya sebagai saksi perang tanding tersebut. Apalagi rakyat sipil tidak ada yang jadi korban dalam proses penguasaan Nusa oleh Dalem Klungkung. Sifat-sifat kesatria Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol ini patut menjadi renungan kita bersama dalam membangun Bali dalam proses dinamika kehidupan politik untuk mengutamakan sifat-sifat kesatria yang tidak mengorbankan rakyat kecil untuk mewujudkan tujuan mencapai kekuasaan maupun mencari kekayaan.
Bersatunya Nusa dengan Bali menjadi satu sistem pemerintahan dalam proses yang sangat terhormat pada masa pemerintahan Dalem Klungkung. Tidak ada yang kalah menang dalam artian sempit. Dalem Dukut tidak mengerahkan pasukan wong samar-nya melawan I Gst. Jelantik Bogol. Kemungkinan Dalem Dukut melihat suatu kepentingan yang lebih besar dan lebih mulia yaitu bersatunya alam dan rakyat Nusa dengan Bali. Persatuan ini akan membawa kedua daerah lebih mudah maju membangun kesejahteraan hidup bersama antara rakyat Bali dan Nusa Penida lahir batin.


Kisah Ratu Niang Sakti



Ratu Niang Sakti

Kini tersebutlah Danghyang Nirartha, seorang pendeta utama datang ke tanah Bali pada tahun Saka 1411 bersama istri dan putra-putranya, yakni: (1) Ida Ayu Swabawa, (2) Ida Kuluwan, (3) Ida Lor, (4) Ida Wetan, (5) Ida Rai Istri, (6) Ida Tlaga, (7) Ida Nyoman Kaniten. Adapun Danghyang Nirartha menaiki waluh kele / waluh pahit, istri dan putra-putranya menaiki perahu bocor. Karena kesaktiannya segera sampai di Bali, istirahat di bawah pohon ancak. Kemudian didirikan parhyangan bernama Pura Ancak. Ada bisama/ putusannya kepada keturunannya, tidak boleh makan waluh selama-lamanya.

Dikisahkan, perjalanan Danghyang Nirartha ke arah timur, tiba-tiba bertemu dengan seekor naga yang mengangakan mulutnya bagaikan goa. Masuklah beliau, ke mulut naga, dan di dalam ditemuinya telaga berisi bunga tunjung sedang mekar di dalamnya, ada yang putih, merah dan hitam. Lalu dipetik bunga-bunga itu.

Ketika beliau keluar dari perut naga, sirnalah naga itu, wajah Danghyang Nirartha berubah-ubah dan menyeramkan, terkadang merah, hitam, dan putih silih berganti. Itu sebabnya pucat istri dan para putranya melihat sang rsi. Kemudian terlihat istrinya Sri Patni Kiniten demikian juga putra-putranya. Tetapi Ida Ayu Swabawa terlihat paling akhir dalam keadaan pingsan, karena diperdaya oleh orang desa di Pagametan. Lalu marah sang Rsi seraya mengutuk orang Desa Pagametan menjadi wong samar bernama wong Sumedang berikut desanya disirnakan. Demikian kisahnya.

Adapun Ida Ayu Swabawa sirna sebagai dewa wong Sumedang, berstana di Pura Melanting disembah sebagai Dewi Pasar. Ibunda beliau Sri Patni Kaniten sirna di Pulaki menjadi Batari Dalem Pulaki. Demikian juga putrinya yang bernama Ida Rai Istri, ketika mengikuti perjalanan Danghyang Nirartha, lalu sirna di Alas Sepi bernama Suwung, disembah di Pura Griya Tanah Kilap, Desa Suwung Badung, bergelar Batari Lingsir atau Betari Ratu Niyang Sakti.
Jika kita melihat dengan mata batin ratu niang terkadang perwujudanya Cantik sekali dengan Rambutnya yang Panjang, kadang perwujudannya seorang Nenek nenek dengan memegang tongkat sambil berjalan bungkuk......karena saya orang jawa terbiasa saya panggil Nenek (dirumah) jika dengan orang sini saya panggil Niang .....itu sebetulnya Secret.........Niang masih ada hubungan dengan Ide Ratu Gede Dalem Ped.....dan setiap ada pelinggihnya Niang pasti ada pelinggihnya Ratu Gede....selalu berdampingan yang tidak bisa terpisahkan dalam artian dikehidupan sebelum kita ada beliau sudah saling mengasihi dan menyayangi.......kemanapun niang pergi selalu dijaga oleh ida ratu gede.......
Mendengar kata ratu niang tak terasa tengkuk ini semakin dingin....dengan kelembabannya..... pada dasar Ratu Niang bisa sama karena perwujudan beliau juga dengan banyak nama sesuai dengan wilayah dan daerahnya kan tetapi tetap satu.....dengan berbagai nama tersebut sesuai dengan tatanan dalam koridornya dengan fungsi tugas yang berbeda beda ......jika salah mohon dimaafkan Misalkan Istilah Penunggun Karang dalam Sastra Dresta disebut Sedahan Karang (di perumahan) untuk membedakan dengan Sedahan Sawah (di sawah) dan Sedahan Abian (di kebun/ tegalan/ abian).
Dalam lontar Kala Tattwa disebutkan bahwa Ida Bethara Kala bermanifestasi dalam bentuk Sedahan Karang/ Sawah/ Abian dengan tugas sebagai Pecalang, sama seperti manifestasi beliau di Sanggah Pamerajan atau Pura dengan sebutan Pangerurah, Pengapit Lawang, atau Patih.
Agama lain disenangi Ratu Niang ;
Mengingatkan kejadian tahun lalu., ijinkan may sedikit cerita. May dulu adalah seorang Kristen Protestan, sebelum di sudi wadani, may sakit-sakitan selama kurang lebih 3 bulan. Tidak jelas penyakitnya, tapi pernah dibilang kena tipes. Pada hari raya Galungan, may nangkil ke pura Melanting, Pulaki. Nah, sejak saat itulah may tidak pernah sakit lagi. Kemudian bulan februari 2012 may disudi wadani di pura besakih oleh YJHN, may lupa, disana ada yg mengatakan kalau may disenengin sama bethara-bethari yg melinggih di Pura Melanting, alangkah terkejutnya may bapak tsb mengungkapkan sebuah kebenaran, karna sejak saat itu may tidak sakit-sakitan lagi. Beliau juga mengatakan bahwa Leluhur may berstana di Pura Dalem Ped. May asli sasak, orang Lombok, bagaimana mgkn? Semua kejadian ini seperti kebetulan yg tidak kebetulan. Apalagi setelah menyimak comment-comment, semua yg may alami memang ada hubungannya., may sangat penasaran sekali. Mohon bersedia kiranya pada may yg masih bingung mencari jati diri.
Pengakuan  Riyanto :
SENANG MENDENGAR, RATU MELANTING SERING SAYA PANGGIL RATU CANTIK.....DENGAN BERPARAS CANTIK....DAN MASIH KETURUNAN KANJENG RATU KIDUL SEBAGAI CUCU.....NYA
PERNAH SAYA MELAKSANAKAN PERSEMBAHYANGAN DI PURA MELANTING DAN DISANA SAYA JUGA DISAMBUT DENGAN PERPUTARAN ANGIN PUTING BELIUNG DI SAMPING SAYA KAN TETAPI YANG LAIN TIDAK MELIHATNYA...SETELAH SAYA TANYA TEMAN ADA ANGIN YANG DATANG YA...ENGGAK....YA SETIAP INSAN BERBEDA PENGANUGRAHANNYA.....KARENA NAGA KANAN DAN KIRNYA SEBAGAI PENGAWALNYA........MENYAMBUT KEHADIRAN SAYA SEAKAN MENYAMPAIKAN SELAMAT DATANG .....
Kalau kita lihat antara klungkung dengan nusa penida adalah sangat dekat tentunya silsilah terjadinya pasti tidak jauh dari sejarahnya Pasek Gel Gel Klungkung atau Pada awalnya, informasi tentang keberadaan Pura Pentaran Agung Ped sangat simpang-siur. Sumber-sumber informasi tentang sejarah pura itu sangat minim, sehingga menimbulkan perdebatan yang lama. Kelompok (Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku Rumodja -- Mangku Lingsir) menyebutkan pura itu bernama Pura Pentaran Ped. Yang lainnya, khususnya para balian di Bali, menyebut Pura Dalem Ped.
Seorang penekun spiritual dan penulis buku asal Desa Satra, Klungkung, Dewa Ketut Soma dalam tulisannya tentang Selayang Pandang Pura Ped beranggapan bahwa kedua sebutan dari dua versi yang berbeda itu benar adanya. Menurutnya, yang dimaksudkan adalah Pura Dalem Penataran Ped. Hanya, satu pihak menonjolkan penatarannya. Satu pihak lainnya lebih menonjolkan dalemnya.
Selain itu, beberapa petunjuk yang menyebutkan pura itu pada awalnya bernama Pura Dalem. Dalam buku Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped yang ditulis Drs. Wayan Putera Prata menyebutkan Pura Dalem Ped awalnya bernama Pura Dalem Nusa. Penggantian nama itu dilakukan tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung. Penggantian nama itu setelah Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa.
Meski demikian, hal itu seolah-olah terbantahkan. Karena seorang tokoh masyarakat Desa Ped, Wayan Sukasta, secara tegas menyatakan bahwa nama sebenarnya dari pura tersebut adalah Pura Penataran Agung Ped. Terbukti dari kepercayaan warga-warga sekitar saat ini. Walaupun ada yang menyebutkan pura itu dengan sebutan Pura Dalem, yang dimaksud bukanlah Pura Dalem yang merupakan bagian dari Tri Kahyangan (Puseh, Dalem dan Bale Agung). Melainkan Dalem untuk sebutan Raja yang berkuasa di Nusa Penida pada zaman itu. Dalem atau Raja dimaksud adalah penguasa sakti Ratu Gede Nusa atau Ratu Gede Mecaling, katanya.
Ada lima lokasi pura yang bersatu pada areal Pura Penataran Agung Ped. Pura Segara, sebagai tempat berstananya Batara Baruna, terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai lautan Selat Nusa. Beberapa meter mengarah ke selatan ada Pura Taman dengan kolam mengitari pelinggih yang ada di dalamnya. Pura ini berfungsi sebagai tempat penyucian.
Mengarah ke baratnya lagi, ada Pura utama yakni Penataran Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa pada zamannya. Di sebelah timurnya ada lagi pelebaan Ratu Mas. Terakhir di jaba tengah ada Bale Agung yang merupakan linggih Batara-batara pada waktu ngusaba.
Masing-masing pura dilengkapi pelinggih, bale perantenan dan bangunan-bangunan lain sesuai fungsi pura masing-masing. Selain itu, di posisi jaba ada sebuah wantilan yang sudah berbentuk bangunan balai banjar model daerah Badung yang biasa dipergunakan untuk pertunjukan kesenian.
Seluruh bangunan yang ada di Pura Penataran Agung Ped sudah mengalami perbaikan atau pemugaran. Kecuali benda-benda yang dikeramatkan. Contohnya, dua arca yakni Arca Ratu Gede Mecaling yang ada di Pura Ratu Gede dan Arca Ratu Mas yang ada di Pelebaan Ratu Mas. Kedua arca itu tidak ada yang berani menyentuhnya. Begitu juga bangunan-bangunan keramat lainnya. Kalaupun ada upaya untuk memperbaiki, hal itu dilakukan dengan membuat bangunan serupa di sebelah bangunan yang dikeramatkan tersebut.
Tuhan Yang Maha Esa memberikan kekuatan spiritual (rohani) dan fisikal (jasmani). Semua sinar sucinya yang disebut Deva berfungsi atas kehendak Tuhan. Kasih-Nya adalah keabadian, krodanya adalah kematian. Kami semuanya mengaturkan sembah kepada-Nya.
PURA Dalem Penataran Peed di Nusa Penida itu adalah pura untuk memuja Tuhan Yang Mahakuasa sebagai pencipta Purusa dan Pradana. Purusa itu adalah kekuatan jiwa atau daya spiritualitas yang memberikan napas kehidupan pada alam dan segala isinya. Pradana adalah kekuatan fisik material atau daya jasmaniah yang mewujudkan secara nyata kekuatan Purusa tersebut.
Karena itu umat Hindu berbondong-bondong rajin bersembahyang ke Pura Dalem Penataran Peed untuk mendapatkan keseimbangan daya hidup, baik daya spiritual maupun daya fisikal. Karena hanya keseimbangan peran dan fungsi rohani dan jasmani itulah hidup yang harmonis di bumi ini dapat dicapai.
Pemujaan Tuhan sebagai pencipta unsur Purusa dan Pradana ini divisualkan dalam wujud pemujaan di Pura Dalem Penataran Peed. Visualisasi itu merupakan perpaduan konsepsi Hindu dengan kearipan lokal Bali. Di Pura Dalem Penataran Peed ini terdapat dua arca Purusa dan Predana dari uang kepeng yang disimpan di gedong penyimpenan sebagai pelinggih utama di Pura Dalem Penataran Peed. Arca Purusa Predana inilah yang memvisualisasikan kemahakuasaan Tuhan yang menciptakan waranugraha keseimbangan hidup spiritual (Purusa) dengan kehidupan fisik material (Predana).
Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan Batara Siwa menurunkan Dewi Uma dan berstana di Puncak Mundi Nusa Penida diiringi oleh para Bhuta Kala simbol kekuatan fisik material berupa ruang dan waktu. Bhuta itu membentuk ruang dan Kala adalah waktu. Waktu timbul karena ada dinamika ruang. Di Pura Puncak Mundi, Dewi Uma bergelar Dewi Rohini dan berputra Dalem Sahang. Pepatih Dalem Sahang bernama I Renggan dari Jambu Dwipa -- kompyang dari Dukuh Jumpungan.
Dukuh Jumpungan itu lahir dari pertemuan Batara Guru dengan Ni Mrenggi, dayang dari Dewi Uma. Kama dari Batara Guru berupa awan kabut yang disebut limun. Karena itu disebut Hyang Kalimunan. Kama Batara Guru ini di-urip oleh Hyang Tri Murti dan menjadi manusia. Setelah digembleng berbagai ilmu kerohanian dan kesidhian, dan oleh Hyang Tri Murti terus diberi nama Dukuh Jumpungan dan bertugas sebagai ahli pengobatan. Setelah turun-temurun Dukuh Jumpungan menurunkan I Gotra yang juga dikenal I Mecaling. Inilah yang selanjutnya disebut Ratu Gede Nusa.
Ratu Gede Nusa ini berpenampilan bagaikan Batara Kala. Menurut penafsiran Ida Pedanda Made Sidemen (alm) dari Geria Taman Sanur yang dimuat dalam buku hasil penelitian Sejarah Pura oleh Tim IHD Denpasar (sekarang Unhi) antara lain menyatakan sbb: saat Batara di Gunung Agung, Batukaru dan Batara di Rambut Siwi dari Jambu Dwipa ke Bali diiringi oleh seribu lima ratus (1.500) orang halus (wong samar).
Lima ratus wong samar itu dengan lima orang taksu menjadi pengiring Ratu Gede Nusa atas wara nugraha Batara di Gunung Agung. Batara di Gunung Agung memberi wara nugraha kepada Ratu Gede Nusa atas tapa brata-nya yang keras. Atas tapa brata itulah Batara di Gunung Agung memberi anugrah dan wewenang untuk mengambil upeti berupa korban manusia Bali yang tidak taat melakukan perbuatan baik dan benar sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
Di Pura Dalem Penataran Peed ini Ida Batara Dalem Penataran Peed dipuja di Pelinggih Gedong, sedangkan Pelinggih Ratu Gede Nusa berada areal tersendiri di barat areal Pelinggih Dalem Penataran Peed. Pelinggih Dalem Penataran Peed ini berada di bagian timur, sedangkan Pelinggih Padmasana sebagai penyawangan Batara di Gunung Agung berada di bagian utara dalam areal Pura Dalem Penataran Peed. Di Pura Dalem Penataran Peed ini merupakan penyatuan antara pemujaan Batara Siwa di Gunung Agung dengan pemujaan Dewi Durgha atau Dewi Uma di Pura Puncak Mundi.
Dengan demikian Pura Dalem Penataran Peed itu sebagai Pemujaan Siwa Durgha dan Pemujaan Raja disebut Pura Dalem. Sedangkan disebut sebagai Pura Penataran Peed karena pura ini sebagai Penataran dari Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha. Artinya, Pura Penataran Peed ini sebagai pengejawantahan yang aktif dari fungsi Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha.
Di pura inilah bertemunya unsur Purusa dari Batara di Gunung Agung dengan Batari Uma Durgha di Puncak Mundi. Dari pertemuan dua unsur ciptaan Tuhan inilah yang akan melahirkan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya yang disebut Rambut Sedhana. Baik sarana hidup untuk memajukan kesejahteraan maupun sarana untuk mempertahankan kesehatan dan menghilangkan berbagai penyakit.
Upacara pujawali di Pura Dalem Penataran Peed ini dilangsungkan pada setiap Budha Cemeng Klawu. Hari Budha Cemeng Klawu ini adalah hari untuk mengingatkan umat Hindu pada hari keuangan yang disebut Pujawali Batari Rambut Sedhana. Pada hari ini umat Hindu diingatkan agar uang itu digunakan dengan baik dan setepat mungkin. Uang itu sebagai alat untuk mendapatkan berbagai sarana hidup agar digunakan dengan seimbang untuk menciptakan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya. Uang itu sebagai sarana menyukseskan tujuan hidup mewujudkan Dharma, Artha dan Kama sebagai dasar mencapai Moksha.
Berdasarkan adanya Pelinggih Manjangan Saluwang di sebelah barat Tugu Penyimpanan dapat diperkirakan bahwa Pura Dalem Penataran Peed ini sudah ada sejak Mpu Kuturan mendampingi Raja memimpin Bali. Pura ini mendapatkan perhatian saat Dalem Dukut memimpin di Nusa Penida dan dilanjutkan pada zaman kepemimpinan Dalem di Klungkung.
* I Ketut Gobyah
Tabepekulun,Ratu Niang memang lebih terkenal di denpasar dan sekitarnya..org dr luar denpasar biasanya akan bertanya siapa Ratu Niang itu..kalo saya menyebut beliau dengan Ratu Niang Sakti yg berstana di pura tanah kilap di suwung..di mertasari sanur jg ada pura dalem pengembak yg melinggih disana adalah Ratu Niang Ayu..hubungannya??saya blm sempat bertanya sama guru saya..tp kayaknya ada kaitannya satu sama lain...Ratu Niang Sakti dipercaya sebagai penguasa para mahluk halus..MUNGKIN jika ada pedagang yg bawa daksina kesana dan daksinanya dipendak ke warungnya,MUNGKIN salah satu mahluk halusnya diperintahkan utk ikut ke warung tsb.kalo kita sembahyang ke pura tanah kilap,kita akan melihat banyak pelinggih disana,itu karna pengabih beliau ada banyak,salah satunya adalah Ratu Bagus.beliau adalah salah satu favorit saya,beliau adalah Bhatara berbadan (tabepekulun) cebol,cungih(congek),perokok berat dan senang minum arak api..beliau punya wewenang mencabut nyawa bayi...kalo sembahyang ke tanah kilap lihat dibelakang pelinggih Ratu Niang ada pelinggih isi bola2an,mainan anak2,dan bahkan layangan.
Pertanyaan :
Ratu Niang..sebelumnya yang sudah ada....sebelum okan Danghyang Niararta,...Yang melinggih di Gunung agung...atas semadi seorang brahmana Danhyang Sidhimantra...Ratu Niang dalam bhatinnya jatuh cinta dengan brahmana itu dan melahirkan seorang Putra..Ki Kebo Iwa...dan didarma putra oleh Sri Karang Buncing..yang lahir melalui Padipaan..
Sejarahnya Ratu Niang sane berstana ring Gunung Agung...dan yang berperyangan ring Pura Kepah Punggul dalem Ped....dan putra belau Ratu Gde dan putun Ida, Ratu Ayu....sapunapi juga dengan Ratu Niang Gobleg, Ratu Nyang tan mebusana ...sane bertugas ring pasar...
Semoga berguna informasi ini, walaupun tidak lengkap karena niskala.

Kisah Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling



Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling

Dari perkawinan I Renggan dengan Ni Merahim, lahirlah dua orang anak, satu laki-laki, yang satunya adalah perempuan. Yang laki-laki bernama I Gede Mecaling dan yang perempuan di beri nama Ni Tole, dan Ni Tole kemudian menjadi permaisuri Dalem Sawang yang menjadi raja di Nusa Penida. Sedang I Gede Mecaling mempunyai seorang istri yang bernama Sang Ayu Mas Rajeg Bumi.

I Gede Mecaling sangat senang melakukan tapa brata yoga semadhi di Ped, pengastawaanya ditujukan kepada Ida Bhatara Ciwa dan karena ketekunannya Ida Bhatara Ciwa berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan berupa Kanda Sanga. Kemudian, setelah mendapat panugrahan kanda sanga phisik I Gede Mecaling menjadi berubah. Badannya menjadi besar, mukanya menjadi menyeramkan, taringnya menjadi panjang, suaranya menggetarkan seisi jagat raya. Sedemikian hebat dan sangat menyeramkan, maka seketika itu juga jagat raya menjadi guncang. Kegaduhan, ketakutan, kengerian yang disebabkan oleh rupa, bentuk dan suara yang meraung-raung siang dan malam dari I Gede Mecaling membuat gempar di mercapada.
Melihat dan mendengar yang demikian, para dewa pun ikut menjadi bingung karena tidak ada satu orang pun yang bisa menandingi kesaktian I Gede Mecaling. Bahkan sesungguhnya para dewa tidak ada yang bisa menandingi, tidak ada yang bisa mengalahkan kesaktian I Gede Mecaling yang bersumber pada kedua taringnya yang telah dianugrahkan oleh Ida Bhatara Ciwa. Akhirnya turunlah Ida Bhatara Indra untuk berusaha memotong taring I Gede Mecaling. Setelah taring I Gede Mecaling berhasil dipotong barulah I Gede Mecaling berhenti menggemparkan jagat raya. Setelah itu I Gede Mecaling kembali melakukan tapa brata yoga semadhi, pengastawanya di tujukan kepada Ida Bhatara Rudra dan Ida Bhatara Rudra pun berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan kepada I Gede Mecaling berupa panca taksu, yaitu:

1. Taksu balian,
2. Taksu penolak grubug,
3. Taksu kemeranan,
4. Taksu kesaktian,
5. Taksu penggeger.

I Gede Mecaling menjadi raja setelah Dalem Sawang wafat karena berperang dengan Dalem Dukut. Dengan demikian I Gede Mecaling memimpin semua wong samar dan bebutan-bebutan yang ada di bumi. Juga pada akhirnya I Gede Mecaling diberi wewenang oleh Ida Bhatari Durga Dewi untuk mencabut nyawa manusia yang ada di bumi.

I Gede Mecaling juga di berikan wewenang sebagai penguasa samudra. Karena menguasai samudra sering juga disebut Ratu Gede Samudra. Gelar I Gede Mecaling yang diberikan oleh Ibu Durga Dewi yaitu Papak Poleng dan permaisurinya Sang Ayu Mas Rajeg Bumi diberi gelar Papak Selem. I Gede Mecaling moksha di Ped dan istrinya moksha di Bias Muntig. Keduanya sekarang sebagai penguasa di bumi Nusa Penida dan mendapat wewenang sebagai penguasa kematian. Maka bagi umat yang ingin umurnya panjang, sehat, selamat dan lain-lain memohonlah kepada Beliau I Gede Mecaling yang akhirnya bergelar Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling.

Akan tetapi karena sering ke Bali dan bertemu dengan Ida Bhatari Ratu Niang Sakti, akhirnya Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped juga menjadi Pengabih Ida Bhatari Ratu Niang Sakti. Tidak dapat dijelaskan pada tulisan ini alasan-alasan yang lebih khusus karena etika suci.


Kisah Dalem Sidakarya atau Brahmana Keling



Dalem Sidakarya atau Brahmana Keling
Dalam sumber tertulis yang mengungkap sejarah Dalem Sidakarya adalah "Lontar Bebali Sidakarya" yang merupakan koleksi dari Ida Pedanda Gede Nyoman Gunung dari Biau, Desa Muncan, Karangasem. Dalam Babad Sidakarya yang disusun I Nyoman Kantun, S.H., M.H. dan Drs. I Ketut Yadnya dinyatakan, Brahmana Keling merupakan sebutan salah seorang pendeta dari Jawa Timur.

Secara ringkas dituturkan bahwa Ida Dalem Sidakarya adalah seorang Brahmana wulaka keturunan sakya dari Keling atau disebut dengan Brahmana Keling. Disebut Brahmana Keling karena berasal dari daerah Keling, Jawa Timur. Brahmana Keling adalah putra Dang Hyang Kayumanis, cucu dari Mpu Candra, kumpi dari Mpu Bahula dan cicit dari Mpu Beradah. Sampai saat ini belum ada yang tahu nama asli Brahmana Keling. Karena berasal dari Keling maka beliau disebut Brahmana Keling.


Brahmana Keling ini merupakan putra dari Dang Hyang Kayu Manis yang merupakan nabe dari Ida Dalem Waturenggong yang menjadi raja di Bali yang berkedudukan di Gelgel, Klungkung.

Sebelum pergi ke Bali, Brahmana Keling pernah memimpin upacara selamatan dengan sukses di Madura. Sekembalinya ke Jawa, ketika beliau sedang asyik menikmati panorama Selat Bali, datanglah ayah beliau (Dang Hyang Kayu Manis) yang baru datang dari Gelgel, Bali, dimana Keraton Gelgel Klungkung diperintah oleh Dalem Waturenggong. Mendengarkan hal itu, maka Brahmana Keling segera pergi ke Bali.

Dikisahkan, Brahmana Keling pergi ke Bali. Tak diceritakan perjalanan dari Jawa ke Bali, sampailah beliau di Keraton Gelgel, Klungkung untuk menemui sang raja. Sesampai di Keraton Gelgel, Keraton Gelgel sangat sepi karena Raja Waturenggong sedang berada di Pura Besakih mempersiapkan pelaksanaan upacara. Brahmana Keling langsung menuju Pura Besakih ingin bertemu dengan saudaranya, Dalem Waturenggong.

Sesampai di Pura Besakih, Brahmana Keling disapa para pengayah dan ditanyakan mau bertemu siapa. Brahmana Keling menjawab ia ingin menemui saudaranya Dalem Waturenggong dan Dang Hyang Nirartha. Para pengayah ragu atas pengakuan Brahmana Keling, sehingga kedatangannya belum berani disampaikan kepada Raja.

Namun, karena segera ingin bertemu, Brahmana Keling masuk ke dalam Pura Besakih tanpa dilihat orang. Karena saking lelahnya, beliau menuju pelinggih dan beristirahat sejenak. Tak berselang lama datang Dalem Waturenggong dan melihat bahwa ada orang dengan pakaian lusuh. Raja akhirnya memanggil prajurit untuk menanyakan siapa gerangan orang tersebut. Prajurit pun melaporlan bahwa orang itu tiada lain Brahmana Keling.

Sayang sekali Brahmana ini tidak diakui sebagai saudara karena melihat pakaiannya yang compang-camping dikira orang gila, bahkan diusir dengan paksa. Raja kemudian memerintahkan prajurit mengeluarkan Brahmana Keling dari lingkungan pura. Brahmana Keling yang tidak diakui sebagai saudara akhirnya meninggalkan Pura Besakih.

Pada saat itu, Brahmana Keling sempat mengucapkan Kutuk Pastu yang isinya: Wastu tata astu, karya yang dilaksanakan tan sidakarya (tidak sukses), bumi kekeringan, rakyat kegeringan, sarwa gumatat-gumitit ngrubeda. Setelah mengucapkan kutuk tersebut, beliau menuju Desa Sidakarya.

Tak berselang lama, kutuk itu terbukti.  Akhirnya Pulau Bali diserang wabah dan hama. Berkenaan dengan bencana ini, Dang Hyang Nirartha menghaturkan upakara untuk memohon keselamatan, tapi permohonan ini tidak berhasil.

Pada suatu malam, Dalem Waturenggong bersemadi di Pura Besakih dan mendapatkan petunjuk Ida Batara bahwa beliau telah berdosa mengusir saudara sendirinya. Untuk mengembalikan keadaan semula, hanya Brahmana Keling yang mampu melakukannya.

Kemudian Dalem Waturenggong mengutus rakyatnya mencari Brahmana Keling sampai ketemu. Berangkatlah rombongan penjemput Brahama Keling untuk dimohon bersedia menemui Dalem Waturenggong. akhirnya Brahmana Keling dijumpai di Bandanda Negara yang sekarang disebut Desa Sidakarya dimana Pura Mutering Jagat Sidakarya berada. Brahmana Keling bersedia mengembalikan keadaan seperti sedia kala.

Dalem Waturenggong di hadapan para menteri/patih/pre arya, Dang Hyang Nirarta dan Dalem Sidakarya bersabda: Mulai saat ini dan selajutnya, bagi setiap umat Hindu melaksanakan karya wajib nunas tirta penyida karya, supaya karya menjadi sidakarya. Untuk mengenang jasa Dalem Sidakarya seterusnya dan demi adanya parahyangan tempat nunas tirta sidakarya bagi umat Hindu, sekitar tahun 1518 M Dalem Waturenggong memerintahkan agar mendirikan Pura Dalem Sidakarya.

Setibanya Brahmana Keling di Pura Besakih, Dalem Waturenggong memohon belas kasihannya agar Pulau Bali dikembalikan seperti semula, tidak ada bencana dan hama. Begitu pula karya atau upacara agama dapat berlangsung dengan baik, dengan janji akan menerima Brahmana Keling sebagai saudara.

Brahmana Keling lantas minta kesaksian yang membenarkan segala yang diucapkan misalnya ayam hitam dikatakan putih maka ayam hitam menjadi benar-benar putih, pohon kelapa yang tadinya tidak berbuah dikatakan berbuah maka benar-benar berbuah. Hama dan wabah pun seketika lenyap sehingga upacara atau karya yang dilaksanakan itu dapat dilanjutkan dan berjalan dengan sidakarya atau sukses.

Setelah semua keadaan dapat dikembalikan sesuai dengan yang diharapkan, maka Dalem Waturenggong mengakui Brahmana Keling sebagai saudaranya yang diberi gelar Brahmana Sidakarya atau Dalem Sidakarya. Ini terjadi pada tahun 1615 €aka.

Dalem Waturenggong di hadapan para menteri/patih/pre arya, Dang Hyang Nirarta dan Dalem Sidakarya bersabda: Mulai saat ini dan selajutnya, bagi setiap umat Hindu melaksanakan karya wajib nunas tirta penyida karya, supaya karya menjadi sidakarya. Untuk mengenang jasa Dalem Sidakarya seterusnya dan demi adanya parahyangan tempat nunas tirta sidakarya bagi umat Hindu, sekitar tahun 1518 M Dalem Waturenggong memerintahkan agar mendirikan Pura Dalem Sidakarya.

Mulai saat itu Dalem Waturenggong memerintahkan seluruh rakyat Bali, untuk suksesnya karya atau upacara yang akan dilaksanakan, agar memohon jatu karya ke Pura Dalem Sidakarya tempat Brahmana Sidakarya). Di samping itu, pada setiap upacara keagamaan supaya diadakan pertunjukan Topeng Sidakarya -- menghaturkan wali Sidakarya -- sebagai pelengkap upacara penting umat Hindu.

Topeng Dalem Sidakarya Mengandung Arti
Pada setiap upacara keagamaan Hindu di Bali, terutama dalam tingkatan yang lebih besar, wali Sidakarya tidak dapat dilupakan. Dalam bentuk sederhana dibuat banten sesayut Sidakarya. Dengan demikian, pertunjukan Topeng Sidakarya sebagai pelengkap dalam upacara mengandung arti sebagai berikut;
  1. Sesuai dengan nama Topeng Sidakarya, ada tujuan supaya pekerjaan atau upacara berlangsung serta selesai dengan baik dan selamat. Selesai dengan baik mengandung arti bahwa upacara berlangsung sebagaimana mestinya lengkap terdiri dari upacara sesuai dengan tingkatan upacara. Selamat mengandung arti upacara terhindari dari segala mara bahaya. Hal ini dapat dihubungkan dengan ekspresi Topeng Sidakarya yakni tipe pelawak tersenyum, membangkitkan rasa kengerian. 
  2. Untuk menghubungkan umat dengan Sang Hyang Widhi dan leluhur melalui lakon yang dipentaskan memberi uraian tentang arti suatu upacara yang sedang digelar.
  3. Upacara tersebut tidak hanya dipimpin dan diselesaikan atau di-puput oleh pendeta (sulinggih), tetapi pertunjukan topeng ikut memberi pengukuhan suksesnya serta sempurnanya sebuah upacara. Anugerah kesempurnaan dan kemakmuran dapat disaksikan pada akhir pertunjukan Topeng Sidakarya yakni secara simbolis peranan Sidakarya menghambur-hamburkan uang kepeng dan beras kuning (sekarura).
Demikian pentingnya pertunjukan Topeng Sidakarya keterkaitannya dengan upacara keagamaan dalam segala yadnya yang digelar di keluarga maupun di pura-pura besar perlu kiranya disikapi dengan arif sehingga tujuan inti ber-yadnya lebih meningkatkan kemantapan pencapaian spiritual. Di samping sebagai pelengkap dalam upacara agama Hindu, Topeng Sidakrya adalah seni kebudayaan Hindu yang dapat mengungkap sejarah.